DEMI MASA, CINTA, DAN KOTA

 

Kota acap kali dihubungkan dengan memori-memori yang berkesan. Entah itu memori baik, buruk, senang, ataupun memori sedih. Baik kakek-nenek, orang tua, remaja tanggung, maupun balita. Semuanya pasti mengalami sebuah kenangan pada sebuah kota. Mulai dari ketua parlemen sampai kepala preman, dede-dede gemes bonceng tiga sampai aktivis lingkungan, pasukan otak ngeres yang ereksi liat manekin, dan tak lupa pula gerombolan woyo yang tumpah ruah dari pinggir samping”, kira-kira begitu penggalan dari lagu Jason Ranti.

Tentang Magelang, bagiku ia adalah sebuah kota singgah sementara yang mengajariku tentang pendewasaan, pertemanan, keyakinan, cinta, dan jati diri. Sebuah peristiwa-peristiwa yang menurutku aneh akan tetapi menjadi pokok cerita yang muncul di umurku yang saat itu baru akan beranjak pada umur 20-an. Harus kuakui, bahwa saat itu kota ini tidak begitu menyenangkan. Bagiku yang terbiasa dengan kehidupan “kota”, Magelang terlihat tidak cukup urban, hanya sebatas kota singgah, dan kurang dari kata “maju”. Sebab itu, perlu waktu untuk menyadari apa yang membedakannya dari kota lainnya, termasuk kota asalku. Misalnya, bagaimana membayangkan sebuah kota yang bebas untuk berekspresi dalam berpenampilan, maupun untuk tidak peduli dengan kehidupan di kiri dan kanan. Di sana, tidak terdengar hangat obrolan antar tetangga yang bercengkerama santai di waktu pagi ataupun sore hari. Atau bahkan, bagaimana sebuah cara untuk menikmati senja tanpa riuhnya suara dan asap kendaraan bersama dengan teman-teman. Singkatnya, menurutku Magelang adalah sebuah tempat yang tenang untuk menghabiskan hari tua. Dari kehidupanku yang sebelumnya urban lalu bertolak ke magelang, hal-hal yang penuh energi pun kian melambat dan menjadi tenang.

Bagiku, Magelang juga adalah kota dengan pesakitan. Ia adalah tempatku tumbuh dewasa dan mengenal lebih jauh soal cinta, tempatku mendapatkan perasaan kesepian yang menyakitkan karena lebih dulu ditinggalkan oleh teman kampus yang lebih dahulu lulus, merasa asing di tempat nongkrong yang baru, tidak merasa dirangkul dan diajak oleh banyak orang yang kukenal, serta perasaan sepi akibat jauh dari sahabat dan keluarga. Terkadang aku juga suka teringat tentang dia yang pernah memiliki hubungan denganku, atau yang datang dan pergi tanpa ragu. Sempat ku konsumsi berbagai jenis anti depresan, namun tak lama berselang hingga akhirnya aku mengamati dengan saksama bahwa di sekitarku juga menyukai kesenangan-kesenangan sederhana: berkumpul dan berserikat, berkebun dan bercocok tanam, meminum produk wine lokal, menikmati konser kecil di kedai kopi a-la CBGB, menikmati berbagai varian makanan baru, ataupun mencari tempat bersantai sore tanpa gadget bersama dengan teman sambil gitaran. Hal itu yang membuatku menemukan sebuah arti tentang kehidupan, yang tak selalu tentang kemapanan.

Magelang. Kota ini menjadi pijakan yang kupilih untuk melanjutkan studi, sekaligus mengajarkanku tentang bagaimana untuk menghargai berbagai perbedaan. “Cara mudah untuk mengenal sebuah kota ialah dengan mengetahui bagaimana penduduk di sana bekerja, mencinta dan mati Albert Camus. Dengan sepantasnya, mereka menyisihkan kesenangan-kesenangan itu untuk akhir pekan, sedangkan hari-hari lainnya untuk melanjutkan studi atau kembali ke pekerjaan. Lagi pula menurutku itu lah proses menjadi dewasa, menerima segala hal baik dan buruk, pahit dan manis, senang maupun sedih, yang terkadang tidak perlu lari serta hanya perlu dinikmati. Dan di situ lah aku kemudian, tetap hidup, tumbuh dan bersosial berdasarkan keadaan. Terima kasih, Magelang.

Comments