Orang Jelek Sulit Ditemukan di Masa Depan: Sebuah Kajian Neo Darwinisme dan Deskripsi Teologi
Sejak
Darwin memulai penjelajahan pertamanya mengarungi samudra dan berbagai belahan
dunia untuk menemukan berbagai macam bukti keyakinan terhadap teorinya yang
sekarang menjadi sebuah karya tulis (The
Origins of Species by Natural Selections), ia menemukan beragam
keanekaragaman hayati baik tumbuhan dan hewan. Dengan banyaknya bukti yang ia
kumpulkan, maka Darwin secara eksplisit mengklaim dirinya adalah “Bapak
Evolusi” pertama atau seorang naturalis. Utamanya, ia mempopulerkan istiah
“adaptasi” dan “evolusi” dalam proses panjang penjelajahannya.
Di
samping keyakinannya terhadap teorinya, di sisi lain ia juga memunculkan
perdebatan kritis di kalangan Agamawan dan Teolog. Mereka menganggap teori
Darwin adalah “cacat” karena pada saat itu konsep evolusi dianggap sebagai
teori yang bertentangan dengan konsep dan nilai-nilai keagamaan. Fanatisme di
gereja hingga Radikalisme di kalangan Islam memunculkan berbagai tanggapan
yang, hingga hari ini masih dibicarakan sebagai bahan perdebatan akademis
maupun teoritis.
Dalam
sudut pandang agama Islam, ada beberapa golongan atau kubu yang memberikan
sikap atau tanggapan terhadap teori Evolusi atau Darwinisme ini. Pertama, mereka yang masuk ke dalam
golongan Kreasionis atau MENOLAK
keras evolusi karena menganggap teori tersebut bertentangan dengan ajaran dan
nilai-nilai Teologi dan Keagamaan, mereka yang memiliki pendapat bahwa “apapun
nilai-nilai keagamaan dan ketuhanan yang dibicarakan di dalam evolusi, para
Naturalis tersebut akan menolaknya, sebab dengan bagaimanapun, evolusi terikat
pada hokum-hukum dan kausalitas yang disebabkan secara alami oleh alam itu
sendiri sehingga para naturalis tidak akan pernah mengakui bahwa hal-hal
metafisika itu benar adanya”. Kedua,
mereka yang masuk ke dalam kategori
Apologetis, yakni mereka yang MENERIMA teori evolusi, namun menyanggahnya
saat diberlakukan kepada manusia. Artinya, golongan ini adalah mereka yang
mengakui konsep evolusi dalam skala mikro, tetapi menolak atau membantahnya
apabila masuk ke dalam lingkup evolusi makro. Adapun golongan ketiga, yakni mereka yang masuk dalam
kategori Liberal, yakni golongan
yang memiliki pendapat bahwa penganut corak ini MENERIMA konsep evolusi baik
diberlakukan pada hewan, tumbuhan ataupun manusia. Menurut golongan ini,
sebenarnya evolusi dan teologi inheren dalam hal ilmu pengetahuan, hanya saja
tafsir manusia terhadap sumber pengetahuan (re: kitab suci dan/atau teori
Darwin) lah yang membuatnya memiliki berbagai macam tafsir yang menyebabkan
perdebatan konstruktif di dalamnya.
Membicarakan
evolusi artinya membicarakan proses panjang terhadap perubahan yang berangsur
lamanya. Sehingga evolusi tidak serta-merta membahas tentang “Apakah manusia berasal dari kera?” atau
“Apakah kera adalah nenek moyang manusia
dan makluk hidup lainnya?” atau “Apakah
evolusi bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan sehingga tidak layak
dipelajari?”. Oleh karena konsep evolusi jauh lebih kompleks dari itu,
sekarang kita pergi pada zaman modern dengan membawa konsep mikroevolusi “Neo
Darwinisme”. Neo Darwinisme atau istilah yang dipopulerkan oleh Darwin sendiri
adalah sebuah konsep dimana dalam tahap ini, Darwin memberikan penjelasan yang
lebih kompleks menyoal mikroevolusi, yakni istilah genetika Mendel, mutasi,
akumulasi variasi genetik dan secara khusus membahas tentang gen yang mendasari
adanya proses panjang evolusi.
Meski
dalam buku The Origins of Species miliknya sendiri memiliki Bab tentang
hibridisme seharusnya membahas kompleks tentang mekanisme genetika dan
perkawinan silang tetapi nyatanya hal tersebut tidak dibahas secara kompleks, pun,
di dalam Bab lainnya juga memuat tentang keberatan dan ketidaksempurnaan
terhadap teori seleksi alam dan catatan geologis. Dalam kesimpulan bukunya,
Darwin mengakui bahwa dahulu ia kurang mementingkan frekuensi, nilai dan
bentk-bentuk variasi yang disebut terakhir tersebut mengggiring ke bentuk modifikasi
struktur yang permanen, tanpa tergantung pada seleksi alam. Tetapi ia meyakini
bahwa seleksi alam telah menjadi sarana utama, walaupun bukan satu-satunya (eksklusif)
sarana modifikasi. Oleh karenanya, dengan adanya kelas-kelas atau
golongan-golongan yang memunculkan berbagai keberatan, ia meyakini bahwasanya
teorinya akan disempurnakan dengan berbagai sudut pandang serta ilmu
pengetahuan baru yang lebih berkembang. Sehingga dengan adanya “kecacatan” itu,
kita akan membahas konsep evolusi mikro sampai dengan makro ke dalam proses
panjang yang belum lengkap dijelaskan olehnya.
Richard Dawkins,
seorang ahli biologi yang juga seorang Profesor di University of Oxford, adalah
seorang ateis yang terkenal karena menerbitkan buku yang berjudul The
Selfish Gene (Gen Egois) yang ia tulis sendiri dengan menyempurnakan
konsep-konsep neo darwinisme. Menurutnya, konsep seleksi alam cukup memuaskan
karena menunjukkan cara di mana kesederhanaan bisa berubah menjadi
kompleksitas, bagaimana atom-atom yang tak beraturan mengelompokkan diri
menjadi pola yang lebih kompleks sampai akhirnya membuat manusia. Kadang-kadang
ketika saling bertemu, atom-atom saling mengaitkan diri bersama dalam rekasi
kimia untuk membentuk molekul yang bisa jadi lebih atau kurang stabil. Misalnya
dalam hemoglobin darah adalah molekul protein yang khas, dibangun dari rantai
molekul yang lebih kecil, yakni asam amino, yang masing-masing berisi beberapa
lusin atom yang tersusun dalam pola tertentu. Contohnya dalam molekul
hemoglobin terdapat 574 molekul asam amino.
Tetapi,
tentu saja itu tidak berarti bahwa konsep gen yang bereplikasi dapat
menjelaskan keberadaan entitas serumit manusia dengan prinsip yang sama begitu
saja. “Tidak ada gunanya anda mengambil
sejumlah atom dan mencampuradukkan semuanya dengan ditambah energy dari luar
smpai kemudian membentuk suatu pola, dan tiba-tiba jadilah Adam!”. Untuk membuat seorang manusia, memerlukan lebih
daripada seribu juta juta juta juta atom, dengan kata lain memerlukan kecocokan
biokimia dalam tubuh suatu organisme untuk jangka waktu yang begitu
lamanya. Dengan contoh bioproses percobaan
zat-zat sederhana di dalam zat cair yang dialiri percik listrik-listrik seperti
simulasi petir purba, setelah beberapa waktu akan menghasilkan sebuah asam
amino. Di mana asam amino inilah cikal bakal pembentuknya kehidupan organisme
yang disebut dengan “Sup Purba”.
Dalam
proses panjang mengenai genetika, mutase dan kaitannya dengan mikroevolusi,
lalu “apakah sesungguhnya gen egois (The
Selfish Gene) itu?” Gen bukan hanya wujud fisik sepotong kecil DNA. Sama
seperti di dalam sup purba, gen adalah semua replica bagian kecil tertentu DNA,
yang tersebar di seluruh dunia. “Lalu apa yang hendak dilakukan oleh Gen Egois
itu?” ia berusaha menjadi lebih banyak di dalam lumbung gen dengan membantu
memprogram tubuh-tubuh yang ditempati untuk bertahan hidup dan bereproduksi.
Membicarakan gen egois sama artinya membicarakan replikator mutasi, yakni suatu
bentuk perubahan dan penyalinan kode genetic dalam satu atau banyak rangkaian
DNA. Sehingga produk yang dihasilkan dari perubahan dan penyalinan kode genetic
di rangkaian tersebut bisa menjadi dominan dan dapat bertahan hidup, ataupun
menjadi resesif, albino, cacat dan mati (letal).
Sekarang
apabila kita bawa konsep mikroevolusi Neo Darwinism dalam kacamata yang lebih
radikal, maka kita mengetahui bahwa kecenderungan makhluk hidup atau organisme
adalah menghasilkan keturunan yang lebih baik, dominan dan mampu beradaptasi di
lingkungan sebagaimana konsep Struggle for Existence, Survival of The
Fittest dan Natural Selections. Misalnya
dalam proses burung kacer jantan untuk memikat betina dengan cara mengeluarkan
suara yang merdu, indah dan menarik perhatian. Atau dalam kasus burung merak
yang melebarkan bulunya yang indah untuk memikat betina. Rusa yang mengandalkan
tanduknya ketika musim kawin untuk memikat betina Ataupun dalam hal ini adalah
manusia sendiri sebagai organisme kompleks yang dikehendaki akal pikir dan budi
pekerti, sehingga manusia cenderung untuk memilih pasangan yang “dominan”
seperti layaknya contoh hewan di atas yang dapat disebut sebagai “seleksi alam”,
dalam hal ini dominan didefinisikan sebagai ciri khusus cantik, tampan, putih,
tinggi, berpostur ideal, sehat, mampu bertahan di cuaca ekstrem, tidak rentan
terhadap penyakit dan lain sebagainya.
Analogi
tersebut menggambarkan satu contoh seleksi alam pada manusia, sekarang apa
jadinya apabila semua individu termasuk manusia melakukan pola “seleksi alam”
yang sama seperti di atas? Ditambah lingkungan dan cuaca yang ekstrim karena global warming, juga karena perubahan
suhu lingkungan, ragam makanan dan komposisinya, pola hidup ataupun hal lainnya, mengakibatkan adanya kecenderungan manusia untuk tetap
bertahan hidup, beradaptasi, juga menghasilkan keturunan generasi yang lebih survive. Oleh karenanya, manusia
menggunakan produk-produk terhadap tubuhnya seperti skincare, peninggi badan, suplemen, multivitamin, serum, dan lain lain
agar tetap dapat bertahan di lingkungan.
Tidak,
bentuk mutasi yang dihasilkan dari produk-produk tersebut belum tentu
diturunkan ke keturunannya secara instant hanya melalui proses reproduksi.
Tetapi apabila produk-produk tersebut digunakan secara berkesinambungan dan
dalam jangka waktu yang lama, bahan atau komposisi dari produk-produk tersebut
akan “menyatu” dengan genetik tubuh si orang yang menggunakannya sebagaimana
konsep mutasi pada mikroevolusi. Sehingga, ketika melakukan proses reproduksi,
dan dengan bersatunya genetik manusia dengan bahan yang terkandung dalam produk
tersebut, serta ditambah kecenderungan manusia untuk mencari pasangan dengan
kriteria “dominan” seperti di atas, maka mutasi menjadi perubahan yang lebih
baik atau dominan dalam satu atau banyak rangkaian gen di dalam tubuhnya dapat
terjadi. Sehingga dapat dikatakan gen resesif atau dalam hal ini gen yang “jelek”
akan kalah melalui seleksi alam sehingga di masa depan menjadi sulit ditemukan.
Lalu,
apa kaitannya antara produk-produk manusia dengan mutasi gen, jurnal tentang
konsep murni evolusi dan juga jurnal tentang respons muslim terhadap teori
evolusi? Pertama, saya pikir, terlalu cepat menyimpulkan bahwa asal muasal
manusia adalah dari primate (kera). Karena proses evolusi adalah proses yang
panjang dan berkesinambungan, melalui istilah, banyaknya factor dan bioproses
yang panjang seperti misalnya Genetic Drift, Gene Pool, Struggle for
Existence, Survival of The Fittest, Variation Under Domestification,
Keanekaragaman Hayati, Natural Selections
dan lain sebagainya yang memiliki definisi kompleks terhadap evolusi, yang,
walaupun secara struktur morfologi, anatomi dan fisiologi primate merupakan
organisme atau spesies yang memiliki kekerabatan paling dekat dengan manusia
atau hominid, kala itu, tetapi itu tidak berarti membuktikan bahwa keduanya
adalah sama dan sejenis. Meminjam istilah Al-Isfahani, seorang tokoh Apologetis
Syiah asal Irak, dalam bukunya yang berjudul Naqd Falsafah Darwin (Kritik atas Darwinisme), 2015, 51-52, yakni “sekadar keserupaan dua hal tidak
meniscayakan bahwa keduanya adalah hasil evolusi dari hal lain, atau salah
satunya adalah hasil evolusi dari yang lain”.
Kedua,
terlalu naif juga apabila tidak mengakui dan menolak fakta yang ada bahwasanya
evolusi benar-benar terjadi di skala mikro, maupun makro, yang padahal contoh,
bukti dan analoginya telah sangat jelas berada di kehidupan kita. Seperti
misalnya mutasi virus, perubahan paruh burung finch di kepulauan Galapagos,
domestifikasi pada tanaman, dan lain-lain.
Sehingga konklusi dari tulisan ini adalah bahwa sebenarnya sains dan agama memiliki titik temu untuk mencapai batas “toleransi” dalam pendefinisian, hanya saja golongan kaum naturalis dan kaum agamawan semestinya memiliki sifat netral dan “siap” dalam menafsirkan masing-masing ilmu yang menjadi focus bidangnya masing-masing. Kekurangan ahli tafsir untuk bersepakat dalam kedua teori ini lah yang menjadi salah satu alasan kenapa sains dan agama cenderung sejalan, tetapi tidak bertemu. Padahal dalam konsep mikro evolusi yang telah dijabarkan di atas, produk-produk buatan manusia itu memiliki pengaruh terhadap aktivitas mutasi gen manusia. Dengan hal ini, saya percaya bahwa proses panjang evolusi benar adanya, juga dalil-dalil dari berbagai kitab suci benar adanya. Oleh karena itu, seharusnya fakta yang ada dan penafsiran agamawan seharusnya dapat menjadi suatu ilmu pengetahuan baru yang memiliki dasar yang kuat antara sains dan agama.
Daftar Pustaka
Darwin, Charles. 2003. The Origins of Species. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Dawkins, Richard. 2017. The Selfish Gene. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia
Riddley, Matt. 2005. Genom: Kisah Spesies Manusia dalam 23 Bab. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama
Taufik, Leo Muhammad. 2019. Teori Evolusi Darwin: Dulu, Kini dan Nanti.
Jurnal Filsafat Indonesia. Vol 2(3). 98-102.
Hilal, Muhammad. 2018. Respons Intelektual Muslim Terhadap Teori
Evolusi. Jurnal Ilmiah Keislaman. Vol 17 (2). 190-204.



.jpeg)
Comments
Post a Comment