Orang Jelek Sulit Ditemukan di Masa Depan: Sebuah Kajian Neo Darwinisme dan Deskripsi Teologi

 

source: www.idntimes.com

Secara terminologi, evolusi merupakan sebuah proses perubahan yang berangsur-angsur lamanya dan berkesinambungan. Dengan kata lain, definisi dari evolusi adalah sebuah proses panjang terkait dengan perubahan bentuk atau struktur morfologi, anatomi dan fisiologi organiseme atau mahkluk hidup. Konsep atau istilah evolusi yang dipopulerkan oleh Charles Darwin ini memicu banyak perdebatan konstruktif, sebab evolusi tidak hanya menjadi istilah bagi kaum atau golongan naturalis (mereka yang meyakini evolusi tanpa campur tangan teologi atau metafisika), tetapi juga menjadi sumber pengetahuan baru untuk membahas lebih dalam apakah sebenarnya yang terjadi di dalam proses evolusi? Baik dari sudut pandang Teologi, pun atau dari sudut pandang saintis.

Sejak Darwin memulai penjelajahan pertamanya mengarungi samudra dan berbagai belahan dunia untuk menemukan berbagai macam bukti keyakinan terhadap teorinya yang sekarang menjadi sebuah karya tulis (The Origins of Species by Natural Selections), ia menemukan beragam keanekaragaman hayati baik tumbuhan dan hewan. Dengan banyaknya bukti yang ia kumpulkan, maka Darwin secara eksplisit mengklaim dirinya adalah “Bapak Evolusi” pertama atau seorang naturalis. Utamanya, ia mempopulerkan istiah “adaptasi” dan “evolusi” dalam proses panjang penjelajahannya.

Di samping keyakinannya terhadap teorinya, di sisi lain ia juga memunculkan perdebatan kritis di kalangan Agamawan dan Teolog. Mereka menganggap teori Darwin adalah “cacat” karena pada saat itu konsep evolusi dianggap sebagai teori yang bertentangan dengan konsep dan nilai-nilai keagamaan. Fanatisme di gereja hingga Radikalisme di kalangan Islam memunculkan berbagai tanggapan yang, hingga hari ini masih dibicarakan sebagai bahan perdebatan akademis maupun teoritis.

Dalam sudut pandang agama Islam, ada beberapa golongan atau kubu yang memberikan sikap atau tanggapan terhadap teori Evolusi atau Darwinisme ini. Pertama, mereka yang masuk ke dalam golongan Kreasionis atau MENOLAK keras evolusi karena menganggap teori tersebut bertentangan dengan ajaran dan nilai-nilai Teologi dan Keagamaan, mereka yang memiliki pendapat bahwa “apapun nilai-nilai keagamaan dan ketuhanan yang dibicarakan di dalam evolusi, para Naturalis tersebut akan menolaknya, sebab dengan bagaimanapun, evolusi terikat pada hokum-hukum dan kausalitas yang disebabkan secara alami oleh alam itu sendiri sehingga para naturalis tidak akan pernah mengakui bahwa hal-hal metafisika itu benar adanya”. Kedua, mereka yang masuk ke dalam kategori Apologetis, yakni mereka yang MENERIMA teori evolusi, namun menyanggahnya saat diberlakukan kepada manusia. Artinya, golongan ini adalah mereka yang mengakui konsep evolusi dalam skala mikro, tetapi menolak atau membantahnya apabila masuk ke dalam lingkup evolusi makro. Adapun golongan ketiga, yakni mereka yang masuk dalam kategori Liberal, yakni golongan yang memiliki pendapat bahwa penganut corak ini MENERIMA konsep evolusi baik diberlakukan pada hewan, tumbuhan ataupun manusia. Menurut golongan ini, sebenarnya evolusi dan teologi inheren dalam hal ilmu pengetahuan, hanya saja tafsir manusia terhadap sumber pengetahuan (re: kitab suci dan/atau teori Darwin) lah yang membuatnya memiliki berbagai macam tafsir yang menyebabkan perdebatan konstruktif di dalamnya.

Membicarakan evolusi artinya membicarakan proses panjang terhadap perubahan yang berangsur lamanya. Sehingga evolusi tidak serta-merta membahas tentang “Apakah manusia berasal dari kera?” atau “Apakah kera adalah nenek moyang manusia dan makluk hidup lainnya?” atau “Apakah evolusi bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan sehingga tidak layak dipelajari?”. Oleh karena konsep evolusi jauh lebih kompleks dari itu, sekarang kita pergi pada zaman modern dengan membawa konsep mikroevolusi “Neo Darwinisme”. Neo Darwinisme atau istilah yang dipopulerkan oleh Darwin sendiri adalah sebuah konsep dimana dalam tahap ini, Darwin memberikan penjelasan yang lebih kompleks menyoal mikroevolusi, yakni istilah genetika Mendel, mutasi, akumulasi variasi genetik dan secara khusus membahas tentang gen yang mendasari adanya proses panjang evolusi.

Meski dalam buku The Origins of Species miliknya sendiri memiliki Bab tentang hibridisme seharusnya membahas kompleks tentang mekanisme genetika dan perkawinan silang tetapi nyatanya hal tersebut tidak dibahas secara kompleks, pun, di dalam Bab lainnya juga memuat tentang keberatan dan ketidaksempurnaan terhadap teori seleksi alam dan catatan geologis. Dalam kesimpulan bukunya, Darwin mengakui bahwa dahulu ia kurang mementingkan frekuensi, nilai dan bentk-bentuk variasi yang disebut terakhir tersebut mengggiring ke bentuk modifikasi struktur yang permanen, tanpa tergantung pada seleksi alam. Tetapi ia meyakini bahwa seleksi alam telah menjadi sarana utama, walaupun bukan satu-satunya (eksklusif) sarana modifikasi. Oleh karenanya, dengan adanya kelas-kelas atau golongan-golongan yang memunculkan berbagai keberatan, ia meyakini bahwasanya teorinya akan disempurnakan dengan berbagai sudut pandang serta ilmu pengetahuan baru yang lebih berkembang. Sehingga dengan adanya “kecacatan” itu, kita akan membahas konsep evolusi mikro sampai dengan makro ke dalam proses panjang yang belum lengkap dijelaskan olehnya.

Richard Dawkins, seorang ahli biologi yang juga seorang Profesor di University of Oxford, adalah seorang ateis yang terkenal karena menerbitkan buku yang berjudul The Selfish Gene (Gen Egois) yang ia tulis sendiri dengan menyempurnakan konsep-konsep neo darwinisme. Menurutnya, konsep seleksi alam cukup memuaskan karena menunjukkan cara di mana kesederhanaan bisa berubah menjadi kompleksitas, bagaimana atom-atom yang tak beraturan mengelompokkan diri menjadi pola yang lebih kompleks sampai akhirnya membuat manusia. Kadang-kadang ketika saling bertemu, atom-atom saling mengaitkan diri bersama dalam rekasi kimia untuk membentuk molekul yang bisa jadi lebih atau kurang stabil. Misalnya dalam hemoglobin darah adalah molekul protein yang khas, dibangun dari rantai molekul yang lebih kecil, yakni asam amino, yang masing-masing berisi beberapa lusin atom yang tersusun dalam pola tertentu. Contohnya dalam molekul hemoglobin terdapat 574 molekul asam amino.

Tetapi, tentu saja itu tidak berarti bahwa konsep gen yang bereplikasi dapat menjelaskan keberadaan entitas serumit manusia dengan prinsip yang sama begitu saja. “Tidak ada gunanya anda mengambil sejumlah atom dan mencampuradukkan semuanya dengan ditambah energy dari luar smpai kemudian membentuk suatu pola, dan tiba-tiba jadilah Adam!”. Untuk membuat seorang manusia, memerlukan lebih daripada seribu juta juta juta juta atom, dengan kata lain memerlukan kecocokan biokimia dalam tubuh suatu organisme untuk jangka waktu yang begitu lamanya.  Dengan contoh bioproses percobaan zat-zat sederhana di dalam zat cair yang dialiri percik listrik-listrik seperti simulasi petir purba, setelah beberapa waktu akan menghasilkan sebuah asam amino. Di mana asam amino inilah cikal bakal pembentuknya kehidupan organisme yang disebut dengan “Sup Purba”.

Dalam proses panjang mengenai genetika, mutase dan kaitannya dengan mikroevolusi, lalu “apakah sesungguhnya gen egois (The Selfish Gene) itu?” Gen bukan hanya wujud fisik sepotong kecil DNA. Sama seperti di dalam sup purba, gen adalah semua replica bagian kecil tertentu DNA, yang tersebar di seluruh dunia. “Lalu apa yang hendak dilakukan oleh Gen Egois itu?” ia berusaha menjadi lebih banyak di dalam lumbung gen dengan membantu memprogram tubuh-tubuh yang ditempati untuk bertahan hidup dan bereproduksi. Membicarakan gen egois sama artinya membicarakan replikator mutasi, yakni suatu bentuk perubahan dan penyalinan kode genetic dalam satu atau banyak rangkaian DNA. Sehingga produk yang dihasilkan dari perubahan dan penyalinan kode genetic di rangkaian tersebut bisa menjadi dominan dan dapat bertahan hidup, ataupun menjadi resesif, albino, cacat dan mati (letal).

Sekarang apabila kita bawa konsep mikroevolusi Neo Darwinism dalam kacamata yang lebih radikal, maka kita mengetahui bahwa kecenderungan makhluk hidup atau organisme adalah menghasilkan keturunan yang lebih baik, dominan dan mampu beradaptasi di lingkungan sebagaimana konsep Struggle for Existence, Survival of The Fittest dan Natural Selections.  Misalnya dalam proses burung kacer jantan untuk memikat betina dengan cara mengeluarkan suara yang merdu, indah dan menarik perhatian. Atau dalam kasus burung merak yang melebarkan bulunya yang indah untuk memikat betina. Rusa yang mengandalkan tanduknya ketika musim kawin untuk memikat betina Ataupun dalam hal ini adalah manusia sendiri sebagai organisme kompleks yang dikehendaki akal pikir dan budi pekerti, sehingga manusia cenderung untuk memilih pasangan yang “dominan” seperti layaknya contoh hewan di atas yang dapat disebut sebagai “seleksi alam”, dalam hal ini dominan didefinisikan sebagai ciri khusus cantik, tampan, putih, tinggi, berpostur ideal, sehat, mampu bertahan di cuaca ekstrem, tidak rentan terhadap penyakit dan lain sebagainya.

Analogi tersebut menggambarkan satu contoh seleksi alam pada manusia, sekarang apa jadinya apabila semua individu termasuk manusia melakukan pola “seleksi alam” yang sama seperti di atas? Ditambah lingkungan dan cuaca yang ekstrim karena global warming, juga karena perubahan suhu lingkungan, ragam makanan dan komposisinya, pola hidup ataupun hal lainnya, mengakibatkan adanya kecenderungan manusia untuk tetap bertahan hidup, beradaptasi, juga menghasilkan keturunan generasi yang lebih survive. Oleh karenanya, manusia menggunakan produk-produk terhadap tubuhnya seperti skincare, peninggi badan, suplemen, multivitamin, serum, dan lain lain agar tetap dapat bertahan di lingkungan.

Tidak, bentuk mutasi yang dihasilkan dari produk-produk tersebut belum tentu diturunkan ke keturunannya secara instant hanya melalui proses reproduksi. Tetapi apabila produk-produk tersebut digunakan secara berkesinambungan dan dalam jangka waktu yang lama, bahan atau komposisi dari produk-produk tersebut akan “menyatu” dengan genetik tubuh si orang yang menggunakannya sebagaimana konsep mutasi pada mikroevolusi. Sehingga, ketika melakukan proses reproduksi, dan dengan bersatunya genetik manusia dengan bahan yang terkandung dalam produk tersebut, serta ditambah kecenderungan manusia untuk mencari pasangan dengan kriteria “dominan” seperti di atas, maka mutasi menjadi perubahan yang lebih baik atau dominan dalam satu atau banyak rangkaian gen di dalam tubuhnya dapat terjadi. Sehingga dapat dikatakan gen resesif atau dalam hal ini gen yang “jelek” akan kalah melalui seleksi alam sehingga di masa depan menjadi sulit ditemukan.

Lalu, apa kaitannya antara produk-produk manusia dengan mutasi gen, jurnal tentang konsep murni evolusi dan juga jurnal tentang respons muslim terhadap teori evolusi? Pertama, saya pikir, terlalu cepat menyimpulkan bahwa asal muasal manusia adalah dari primate (kera). Karena proses evolusi adalah proses yang panjang dan berkesinambungan, melalui istilah, banyaknya factor dan bioproses yang panjang seperti misalnya Genetic Drift, Gene Pool, Struggle for Existence, Survival of The Fittest, Variation Under Domestification, Keanekaragaman Hayati, Natural Selections dan lain sebagainya yang memiliki definisi kompleks terhadap evolusi, yang, walaupun secara struktur morfologi, anatomi dan fisiologi primate merupakan organisme atau spesies yang memiliki kekerabatan paling dekat dengan manusia atau hominid, kala itu, tetapi itu tidak berarti membuktikan bahwa keduanya adalah sama dan sejenis. Meminjam istilah Al-Isfahani, seorang tokoh Apologetis Syiah asal Irak, dalam bukunya yang berjudul Naqd Falsafah Darwin (Kritik atas Darwinisme), 2015, 51-52, yakni “sekadar keserupaan dua hal tidak meniscayakan bahwa keduanya adalah hasil evolusi dari hal lain, atau salah satunya adalah hasil evolusi dari yang lain”.

Kedua, terlalu naif juga apabila tidak mengakui dan menolak fakta yang ada bahwasanya evolusi benar-benar terjadi di skala mikro, maupun makro, yang padahal contoh, bukti dan analoginya telah sangat jelas berada di kehidupan kita. Seperti misalnya mutasi virus, perubahan paruh burung finch di kepulauan Galapagos, domestifikasi pada tanaman, dan lain-lain.

Sehingga konklusi dari tulisan ini adalah bahwa sebenarnya sains dan agama memiliki titik temu untuk mencapai batas “toleransi” dalam pendefinisian, hanya saja golongan kaum naturalis dan kaum agamawan semestinya memiliki sifat netral dan “siap” dalam menafsirkan masing-masing ilmu yang menjadi focus bidangnya masing-masing. Kekurangan ahli tafsir untuk bersepakat dalam kedua teori ini lah yang menjadi salah satu alasan kenapa sains dan agama cenderung sejalan, tetapi tidak bertemu. Padahal dalam konsep mikro evolusi yang telah dijabarkan di atas, produk-produk buatan manusia itu memiliki pengaruh terhadap aktivitas mutasi gen manusia. Dengan hal ini, saya percaya bahwa proses panjang evolusi benar adanya, juga dalil-dalil dari berbagai kitab suci benar adanya. Oleh karena itu, seharusnya fakta yang ada dan penafsiran agamawan seharusnya dapat menjadi  suatu ilmu pengetahuan baru yang memiliki dasar yang kuat antara sains dan agama.




Daftar Pustaka

Darwin, Charles. 2003. The Origins of Species. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Dawkins, Richard. 2017. The Selfish Gene. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia

Riddley, Matt. 2005. Genom: Kisah Spesies Manusia dalam 23 Bab. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Taufik, Leo Muhammad. 2019. Teori Evolusi Darwin: Dulu, Kini dan Nanti. Jurnal Filsafat Indonesia. Vol 2(3). 98-102.

Hilal, Muhammad. 2018. Respons Intelektual Muslim Terhadap Teori Evolusi. Jurnal Ilmiah Keislaman. Vol 17 (2). 190-204.


Comments

Popular Posts