Ekofeminisme: Diskursus Ekologi dan Etika Lingkungan
Ekologi
berasal dari bahasa Yunani oikos yang
artinya rumah atau tempat hidup, dan logos
yang artinya adalah ilmu. Secara harfiah ekologi merupakan ilmu yang
mempelajari organisme dalam tempat hidupnya atau dengan kata lain mempelajari
hubungan timbal-balik antara organisme dengan lingkungannya. Ekologi hanya
bersifat eksploratif dengan tidak melakukan percobaan, jadi hanya mempelajari
apa yang ada dan apa yang terjadi di alam.
Artinya komponen biotik dan abiotik adalah kajian utama dari
ilmu ini.
Secara otomatis ilmu ini pun menjadi semacam upaya
untuk mengatasi berbagai permasalahan lingkungan yang kita bisa kaji dan
kemudian kita pecahkan permasalahannya untuk di implementasikan terhadap diri
sendiri dan kepada alam. Dimana alam dirusak di satu sisi, maka ia akan mencari
keseimbangan di sisi lainnya. Itulah prinsip kerja ekologi, dimana hal itu koheren
dengan rumus fisika, yaitu aksi = reaksi. Maka apabila kita memberi kerusakan terhadap
alam (aksi), maka alam akan memberikan bencananya (reaksi) kepada manusia,
dengan begitu alam bekerja agar supaya ekosistem tetap seimbang.
Akhir-akir ini pikiran kita diganggu oleh
persoalan-persoalan lingkungan. Sejumlah konflik sumber daya alam terjadi di
nergri ini menyebabkan alam yang kita tinggali sebagai rumah dan tempat
melangsungkan kehidupan (baca: Ibu Bumi), semakin bertambah rusak akibat ulah
dari tangan-tangan manusia yang serakah dan tidak bertanggung jawab. Eksploitasi
alam yang berlebihan demi pemenuhan kebutuhan manusia yang tidak akan pernah
puas mengakibatkan kerusakan pada bumi menjadi semakin krusial. Mulai dari
pembakaran hutan demi pembukaan lahan sawit, sampah yang menumpuk di pinggir
persawahan para petani dan hulu-hulu sungai, polusi kendaraan dan pabrik yang
semakin tebal, tidak adanya kegiatan penghijauan serta sampah plastic-mikroplastik
yang tergenang di laut yang mengakibatkan terjadinya natural disaster dan climate
strike yang semakin waktu semakin kita rasakan.
Dulu subjek etika memang terbatas hanya pada manusia,
dan yang memberikan status atas subjek-objek memang manusia itu sendiri. Namun
sekarang kita dapat mengenali berbagai macam hak seperti hak hewan, tumbuhan,
hak sungai, hak laut dan lain-lain. Etika tidaklah beku, ia berkembang dan
melekat pada tiap-tiap komponen alam. Berbicara etika artinya berbicara
tindakan; kepada makhluk hidup maupun kepada alam. Ketika banyak sekali
perdebatan diantara para ekolog terhadap kebijakan ataupun pemberian status
moral terhadap yang bukan subjek selain manusia, pun juga banyak sekali
kebijakan yang patriarkal, contohnya terhadap lingkungan. Karena etika
lingkungan memberikan dasar yang rasional tentang statius moral suatu hal. Maka
etika lingkungan adalah argumen yang paling mendasar mengapa hal-hal tersebut
yang tidak memiliki hak menjadi bisa memiliki hak.
Ketika manusia menggunakan cara pandang
antroposentris, maka selama itu pula alam akan selalu menjadi objek bagi manusia
dan manusia akan selalu ego terhadap alam pun juga terhadap makhluk hidup yang
lainnya, atau dalam kata lain hal itu tidak adil dan beradab. Namun ketika
manusia menggunakan cara pandang biosentris, maka manusia akan menmandang
kedudukan nya bersama makhluk hidup yang lain adalah setara. Artinya bemtuk
eksploitatif cenderung lebih kecil karena kedudukan manusia setara. Cara
pandang antroposentris itulah yang seharusnya kita rubah, bahwa manusia
bukanlah makhluk yang kedudukannya paling tinggi diantara makhluk hidup lainnya,
melainkan kedudukan manusia dan makhluk hidup yang lainnya adalah setara. Maka
dari itu kita harus merubah cara pandang antroposentrisme menjadi biosentrisme agar
kemudian berangkat menjadi ekosentrisme agar supaya ada upaya untuk
keberlangsungan kehidupan atas dasar kesetaraan.
Antroposentrisme Biosentrisme Ekosentrisme
Bentuk eksploitasi secara berlebihan terhadap alam
atau merubah status bumi subjek menjadi bumi objek sama artinya dengan bentuk patriarki
terhadap perempuan. Sebab definisi inklusif feminisme mencakup mereka yang
secara eksplisit menyebut diri mereka sebagai feminis dan atau yang tak
menyebut dirinya sebagai feminis tetapi ikut serta memajukan kepentingan
perempuan baik sadar ataupun tidak sadar. Maka mengeksploitasi alam secara
berlebihan sama artinya dengan mengeksploitasi gerakan feminisme dan membiarkan
patriarki tumbuh dengan suburnya.
Apabila kita membicarakan konsep ekologi dalam
kacamata yang radikal, maka konteks ‘Ibu Bumi’ sama artinya dengan perempuan, yang
inheren dengan feminisme; yang seharusnya kita jaga dengan sepenuh hati, kita
rawat dengan sepenuh cinta, dan kita kasihi dengan penuh bijaksana. Artinya
bumi yang kita beri subjek ‘Ibu’ juga mesti kita perlakukan sebagaimana sikap
kita terhadap Ibu kita sendiri.
Contoh lainnya yaitu pelarangan pada tanaman ganja
untuk dimiliki, digunakan, ataupun ditanam. Melarang tanaman ganja untuk tumbuh
artinya melanggar kaidah ekologi. Sebab biosentrisme dan ekosentrisme menentang
pola pikir antroposentris yang menempatkan kedudukan manusia pada posisi yang
tertinggi, yang berarti seharusnya tanaman ganja juga memiliki hak untuk hidup
sebagaimana makhluk hidup lainnya. Pun secara historis, tanaman ganja dan dewi
dari mesir memiliki hubungan yang dekat. Seshat adalah salah satu dewi
perempuan yang juga mengagungkan tanaman ganja, yang dapat dilihat dari penutup
kepalanya.
Meminjam teori dari seorang ekofeminis, Karen J
Warren, yang mengatakan bahwa masyarakat dibentuk oleh nilai, kepercayaan,
pendidikan, tingkah laku yang memakai kerangka kerja patriarkal, dimana ada
justifikasi hubungan dominasi dan subordinasi penindasan terhadap perempuan
oleh laki-laki. Salah satu kerangka kerja tersebut yaitu;
cara berpikir dengan nilai yang hierarkis atau cara berpikir yang menempatkan
nilai, prestise, dan status “atas-bawah’ Warren sangat yakin bahwa cara
berpikir hierarkis, dualistik, dan menindas adalah cara berpikir patriarki yang
telah mengancam keselamatan perempuan dan alam.
Secara
epistemologi, hierarki memang dibutuhkan, namun tidak selalu tentang
kuasa-menguasai dan eksploitatif dari sudut pandang manusia. Sebab dominasi itu
terjadi ketika ada nya hierarki, pun dominasi bisa terjadi karena ada yang di
anggap lebih tinggi dan ada yang di anggap lebih rendah. Contohnya dalam
kehidupan nyata, laki-laki merasa ‘lebih tinggi’ daripada perempuan, akibatnya
terjadinya kekerasan, dominasi, subordinasi, dsbnya. Kemudian lahirlah gerakan feminisme
yang muncul untuk menanggapi masalah-masalah ketimpangan antar jenis kelamin,
diskriminasi, penindasan, dan kekerasan terhadap perempuan. Gerakan feminisme
dan ekologis mempunyai tujuan yang saling memperkuat, keduanya hendak membangun
pandangan terhadap dunia praktek yang tidak berdasarkan model-model yang patriarkal
dan dominasi-dominasi, terlebih terhadap alam. Maka feminisme harus merubah
cara pandang ethics of right menjadi ethics of care.
Ketika kita membicarakan ekofeminisme, artinya kita
juga membicarakan ketidakadilan terhadapa kaum perempuan, sebab ketidakadilan
terhadap perempuan pertama-tama berangkat dari pengertian adanya ketidakadilan
yang dilakukan manusia terhadap non-manusia ataupun alam. Pada akhirnya ekofeminisme adalah
sebuah diskursus baru tentang ekologi yang berkorelasi dengan feminisme untuk
mengubah cara pandang antroposentris agar menjadi ekisentris serta untuk
menentang ism of domination (rasisme,
klasisme, heteroseksisme, ageism, kolonialisme, dll) yang kemudian adalah
semacam upaya untuk menyeimbangkan ekosistem dan kedudukan makhluk hidup
terhadap alam atas dasar kesetaraan dan agar supaya ada upaya ulang penyelamatan
terhadap lingkungan hidup sehingga terjadi kehidupan yang eco-friendly dan
women-friendly.





.jpeg)
Comments
Post a Comment